Rupiah Tertekan, Ekspor Indonesia Tersandung Tarif Baru AS

1 day ago 2
ARTICLE AD BOX
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa kebijakan tarif baru ini dapat memperlemah rupiah lebih lanjut. “Rupiah diperkirakan kembali melemah hari ini. Besar kemungkinan akan volatile dan melibatkan intervensi Bank Indonesia,” ujarnya, Kamis (3/4/2025).

Berdasarkan sentimen tersebut, nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis pagi melemah sebesar 59 poin atau 0,36 persen menjadi Rp16.772 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.713 per dolar AS.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa Indonesia perlu mengevaluasi kebijakan perdagangannya untuk menjaga hubungan yang saling menguntungkan dengan AS. “Indonesia harus memperkuat transparansi perizinan impor dan mematuhi standar internasional agar hubungan dagang tetap harmonis,” katanya.

AS menilai beberapa kebijakan Indonesia terkait tarif dan regulasi perdagangan berpotensi menghambat ekspor AS, termasuk pada produk elektronik, kosmetik, obat-obatan, serta produk pertanian. Hal ini mendorong AS memasukkan Indonesia dalam daftar 58 negara yang dinilai menghambat perdagangan.

Di sisi lain, anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Cik Asan, meminta pemerintah segera menyiapkan langkah mitigasi untuk meredam dampak kebijakan tarif AS ini. Menurutnya, beberapa sektor ekspor utama Indonesia seperti tekstil, alas kaki, dan perikanan bisa mengalami penurunan daya saing akibat kenaikan tarif impor di pasar AS.

“Peningkatan tarif ini akan menyebabkan harga barang asal Indonesia menjadi lebih mahal di AS, yang berpotensi mengurangi daya saing produk-produk ekspor kita,” ujarnya.

Bali, yang mengandalkan ekspor perikanan, produk kreatif dan pertanian seperti kerajinan tangan, mebel, dan kopi ke pasar AS, juga berpotensi terkena dampak. Jika permintaan dari AS menurun, pelaku usaha di Bali akan menghadapi tekanan ekonomi yang lebih besar.

Di sisi lain, Marwan mengungkapkan, riset yang dilakukan oleh Economist Intelligence Unit (EIU) memperkirakan dampak kebijakan Trump terhadap Indonesia tidak sebesar dampak yang dirasakan oleh negara-negara Asia Pasifik lainnya seperti China, Jepang, dan Vietnam. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Amerika Serikat mengalami defisit neraca perdagangan dengan Indonesia pada tahun 2023 dan 2024 berturut turut sebesar 11,97 miliar dolar AS dan 16,08 miliar dolar AS, yang masih lebih kecil dibandingkan dengan defisit yang dialami AS terhadap China, Jepang, dan Vietnam.

Marwan menilai, meskipun dampak terhadap Indonesia tidak sebesar negara Asia Pasifik lainnya seperti China dan Vietnam, tetap ada risiko penurunan permintaan global yang dapat berimbas pada ekonomi nasional. “Jika ekspor negara mitra dagang utama Indonesia ke AS turun, maka permintaan mereka terhadap produk kita juga bisa ikut melemah,” katanya.

Untuk mengatasi dampak ini, pemerintah diminta mendiversifikasi pasar ekspor dengan memperluas kerja sama dagang dengan negara-negara lain. Selain itu, insentif bagi industri terdampak perlu disiapkan agar daya saing tetap terjaga.

Dengan langkah mitigasi yang tepat, Marwan optimistis Indonesia bisa menghadapi tantangan perdagangan global ini tanpa mengalami guncangan ekonomi yang signifikan. “Pendekatan yang mencakup diversifikasi pasar, kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif, serta diplomasi perdagangan yang proaktif sangat penting dalam menjaga stabilitas ekonomi kita,” pungkasnya. *ant

Read Entire Article